Sejarah & Budaya Suku Madura Di indonesia

Suku Madura

andotadao.org – Orang Madura (kadang-kadang Madura atau Madhure; juga dikenal sebagai Orang Madura dan Suku Madura dalam bahasa Indonesia) adalah kelompok etnis yang berasal dari pulau Madura yang sekarang ditemukan di banyak bagian Indonesia, di mana mereka adalah kelompok etnis terbesar ketiga berdasarkan populasi. Umum bagi sebagian besar orang Madura di seluruh nusantara adalah agama Islam dan penggunaan bahasa Madura.

Orang Madura adalah etnis yang religius, sering berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama, sebuah organisasi Muslim Indonesia yang moderat. Pesantren memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Madura.

Sementara orang Madura berakar di Madura di lepas pantai timur laut Jawa, mayoritas orang Madura sekarang tidak tinggal di pulau itu. Orang Madura telah bermigrasi keluar dari Madura selama beberapa ratus tahun, sebagian besar didorong oleh sumber daya pertanian yang buruk di pulau asal mereka. Mayoritas telah menetap di Jawa, di mana diperkirakan enam juta orang Madura tinggal, terutama di Jawa Timur di mana mereka membentuk sekitar setengah dari populasi.

Populasi dan distribusi

Data resmi dan akademik tentang kependudukan orang Madura sangat bervariasi. Selama sensus penduduk nasional yang dilakukan di Indonesia pada tahun 2010, orang Madura merupakan 3,03% dari populasi negara, yaitu 7.179.356 orang. Di sisi lain, beberapa sumber ilmiah beroperasi dengan angka yang jauh lebih besar sekitar 10,5 hingga 10,8 juta orang. Bagaimanapun, orang Madura termasuk etnis terbesar di Indonesia, sehingga menurut statistik sensus 2010, mereka menempati kelompok etnis terbesar keempat setelah orang Jawa, orang Sunda dan orang Batak.

Secara historis, orang Madura mendiami Pulau Madura dan terletak di sebelah timurnya, gugusan pulau-pulau kecil di Laut Jawa seperti Pulau Kambing, Kepulauan Sapudi dan Kepulauan Kangean. Di sini mereka berjumlah sekitar 3,3 juta orang, yang merupakan lebih dari 90% populasi di wilayah ini. Kurang lebih sama jumlah orang Madura yang tinggal di ujung timur Pulau Jawa, dan lebih dari 400.000 jiwa di berbagai belahan Indonesia bagian pulau Kalimantan. Selain itu, puluhan ribu orang Madura tinggal di wilayah lain di Indonesia; khususnya, terdapat komunitas Madura yang signifikan di ibu kota Jakarta (sekitar 80.000 orang), di Bali (sekitar 30.000 orang) dan di provinsi Kepulauan Bangka Belitung (lebih dari 15.000 orang). Ada juga komunitas kecil Madura di negara-negara Asia Tenggara yang berbatasan dengan Indonesia, khususnya di Singapura.

Ada juga orang Madura yang menganut agama lain, seperti Kristen (baik Protestan maupun Katolik) tidak lebih dari 0,2%, dan sisanya dari mereka yang menganut agama lain sangat kecil seperti Hindu. Orang Madura Protestan dapat ditemukan di bagian timur laut Kabupaten Jember, di mana mereka memiliki gereja yang menyampaikan khotbah dalam bahasa Madura yang terletak di desa Sumberpakem, kecamatan Sumberjambe. Gereja tersebut merupakan anggota Gereja Kristen Jawa Timur.

Struktur sosial ekonomi
Mata pencaharian dasar

Keluarga penting bagi orang Madura dan mereka umumnya tinggal di desa-desa yang berfungsi di sekitar pusat keagamaan Islam. Menurut hukum Islam, seorang pria boleh memiliki lebih dari satu istri. Lamaran pernikahan biasanya dilakukan oleh orang tua mempelai pria, sebaiknya kepada sepupu pertama atau kedua. Jika lamaran diterima, orang tua mempelai wanita kemudian disajikan dengan “harga pengantin”, yang biasanya sapi. Orang tua mempelai pria kemudian menetapkan tanggal pernikahan yang akan datang. Pasangan pengantin baru sering tinggal bersama keluarga pengantin wanita. Islam merupakan bagian integral dari kehidupan sosial, politik dan ekonomi orang Madura.

Pekerjaan tradisional utama orang Madura adalah peternakan, yang terutama meliputi peternakan sapi, kambing, kuda, unggas dan ayam aduan. Orang Madura dikenal sebagai penggembala sapi, sehingga sering disebut dengan julukan umum sebagai “koboi” Indonesia. Sapi adalah bagian penting dari budaya, dan balap banteng adalah salah satu olahraga favorit mereka.

Pertanian di kalangan masyarakat Madura di pulau Madura kurang berkembang karena kesuburan yang rendah dan kondisi tanah yang sangat buruk, sehingga pertanian tidak penting dalam budaya Madura. Akibatnya, orang Madura cenderung tidak bertani, kecuali di pulau-pulau lain yang kondisi tanahnya sangat baik, seperti orang Madura di Jawa, di mana pertanian dipraktikkan lebih luas dan berkembang pada tingkat yang lebih rendah. Tanaman utama seperti jagung, singkong, beras, tembakau, kacang-kacangan dan cengkeh. Di antara pengrajin, penyamakan kulit, tembikar, pembuatan batik, pandai besi, serta pengikut kecil dan pembuat perahu juga merupakan pekerjaan penting. Di wilayah pesisir, orang Madura secara aktif terlibat dalam penangkapan ikan, perdagangan dan juga ekstraksi garam (dari Pulau Madura). Terakhir, orang Madura juga menikmati reputasi di wilayah ini sebagai pelaut yang terampil. Penduduk Madura di kota-kota besar, khususnya di Surabaya bagian timur, secara aktif terlibat dalam sektor ekonomi modern.

Pemukiman

Permukiman tradisional Madura tersebar dan jarang berbentuk linier, lebih bergantung pada arah jalan. Di sebagian besar desa, terdapat padang untuk pemeliharaan ternak. Rumah terbuat dari bambu dan sering dibangun di atas panggung rendah. Mereka memiliki struktur rangka yang biasanya dilengkapi dengan beranda. Atap ditutupi dengan daun lontar atau alang-alang, namun sejak sepertiga terakhir abad ke-20, penggunaan genteng semakin umum.

Transmigrasi

Hasil yang rendah di tanah telah lama menjadi penyebab tenaga kerja migran massal dan relokasi penduduk lokal di luar pulau, di mana orang Madura adalah klien utama dari program transmigrasi skala besar pemerintah yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda maupun pihak berwenang. Indonesia merdeka pada abad kesembilan belas dan kedua puluh, di mana mereka menetap di daerah-daerah yang relatif jarang penduduknya di pulau-pulau lain di Indonesia, terutama Kalimantan. Sebagai hasil dari program ini, lebih dari separuh masyarakat etnis Madura yang saat ini tinggal di luar tanah air adatnya telah bermukim di banyak wilayah Indonesia, di mana komunitas-komunitas eks transmigran dan keturunannya yang masih mempertahankan identitas Maduranya.

Orang Madura telah tinggal di wilayah Jawa selama beberapa abad, membentuk mayoritas etnis di beberapa wilayah timur laut pulau itu. Mereka cenderung rukun dengan orang Jawa dalam hal bahasa, budaya, dan cara hidup. Perkawinan campuran antara orang Jawa dan Madura juga sering terjadi. Selain itu, di beberapa daerah di Jawa Timur, terdapat komunitas signifikan dari keturunan perkawinan pendalungan tersebut, yang dibedakan oleh tradisi budaya mereka yang unik yang menggabungkan unsur-unsur Madura dan Jawa pada tingkat yang berbeda-beda.

Situasi lain sering berkembang di provinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, di mana orang Madura dimukimkan kembali di bawah program transmigrasi pada tahun 1900 hingga 1950 dalam rentang waktu 90 tahun. Beberapa dari kelompok migran ini telah menjadi subyek konflik dengan masyarakat Dayak. Penduduk asli, terutama Dayak cukup waspada terhadap orang asing, dan melihat mereka sebagai ancaman bagi mata pencaharian tradisional mereka. Saling tidak percaya juga mendorong perbedaan etnis dan budaya dan agama, di mana sebagian besar orang Dayak menganut agama Kristen atau Kaharingan. Konflik yang paling banyak dipublikasikan terjadi di berbagai daerah di Kalimantan, di mana ribuan orang terbunuh dalam serangkaian pertempuran bersenjata skala besar antara orang Madura dan orang Dayak selama akhir tahun 1990.

Di Kalimantan Barat pernah terjadi kekerasan komunal antara Dayak dan Madura pada tahun 1996, pada konflik Sambas pada tahun 1999 dan konflik Sampit pada tahun 2001, yang mengakibatkan pembantaian besar-besaran terhadap orang Madura. Dalam konflik Sambas, baik orang Melayu maupun orang Dayak membantai orang Madura. Puluhan ribu orang Madura dari Kalimantan terpaksa pindah ke Madura dan Jawa. Pada pertengahan 2000-an, situasi agak stabil dan memungkinkan kembalinya sebagian besar pemukiman kembali orang Madura di Kalimantan.

Budaya
Masakan

Bagi masyarakat Madura, masakan tradisional mereka ditandai dengan penggunaan daging yang cukup banyak; yang terutama menyiapkan tusuk sate mini yang disebut sate disertai dengan bumbu manis khusus dan saus tajam kental, telah menikmati popularitas yang luas di banyak bagian Indonesia. Selain itu, kuliner tradisional Madura dicirikan oleh penggunaan jagung yang aktif dan, secara umum, salinitas hidangan yang lebih tinggi dibandingkan dengan masakan daerah lainnya di negara ini.

Seni rakyat dan pakaian tradisional

Secara budaya, orang Madura cukup dekat dengan Jawa Timur sehingga mereka memiliki kesamaan bentuk cerita rakyat, musik (termasuk gamelan), tari, dan teater bayangan atau wayang. Pakaian adat, bagaimanapun, sangat khusus untuk orang Madura. Pria akan mengenakan mantel rok panjang hitam lengkap dengan ikat pinggang lebar, yang paling sering dikaitkan di bawah kemeja yang bergaris merah dan putih lebar, bersama dengan sarung kotak-kotak. Sementara wanita akan mengenakan jaket biru tua atau berbintik-bintik di atas sarung.

Balap banteng

Sebuah tradisi yang benar-benar unik dari penduduk pulau adalah balap banteng, yang dikenal sebagai Karapan sapi, di mana banteng lokal yang dibesarkan di kereta ringan khusus dipimpin oleh kusir, biasanya seorang pemuda atau remaja. Lomba-lomba tersebut merupakan ciri khas Madura yang dijadikan sebagai daya tarik wisata utamanya. Perlombaan diadakan setiap tahun pada bulan Agustus dan Oktober di tempat yang berbeda, setelah itu pemenang mereka bersaing di babak final, yang secara tradisional diadakan di Pamekasan. Perlombaan biasanya disertai dengan pertunjukan gamelan dan pesta rakyat.

Pada akhir tahun 1980-an, popularitas balap banteng Madura semakin meningkat sehingga pemenang kompetisi akan diberikan hadiah atas nama presiden Indonesia. Selain itu, adegan balapan digambarkan di balik uang logam 100 rupiah produksi tahun 1991 hingga 1998.

Perkelahian

Secara tradisional dalam kehidupan sosial ekonomi masyarakat Madura, terlihat adanya pengaruh yang nyata terhadap karakter bangsanya. Mereka sering dicirikan sebagai pekerja keras, keras kepala, berani, memiliki integritas, setia, murah hati, adil; dan, pada saat yang sama, ketajaman, dendam, hemat ekstrim, isolasi, sombong, pemarah, rentan terhadap kekerasan dan ketidakpercayaan terhadap orang asing – terutama dengan latar belakang kebaikan dan keramahan tetangga mereka seperti orang Jawa.

Di daerah pedesaan, orang Madura masih mempraktekkan tradisi balas dendam kuno, yang disebut “charok” (carok) yang secara harfiah berarti “pertempuran kehormatan”. Pada 1990-an, aparat penegak hukum di masing-masing empat kabupaten di Madura mencatat puluhan kasus setiap tahun. Pembunuhan itu dapat menimbulkan kebencian, cukup kecil menurut standar orang Eropa atau Indonesia biasa. Menurut statistik kriminal setempat, sebagian besar alasan serangan semacam itu biasanya pencabulan terhadap wanita atau sengketa properti, tetapi sering terjadi bahwa balas dendam kejam orang Madura dimotivasi oleh perlakuan yang tidak sopan atau penghinaan di tempat umum terhadap kehormatan seseorang.

Alat balas dendam yang digunakan dalam duel ini seringkali berupa pisau tradisional Madura berbentuk bulan sabit, celurit yang merupakan senjata petani yang paling umum dan di beberapa daerah serta atribut pakaian adat laki-laki. Dalam kasus seperti itu, avenger biasanya mempersiapkan celurit terlebih dahulu jika terjadi duel dengan melemparkan mantra khusus pada senjata.

Terkadang dalam “pertempuran kehormatan” terlibat beberapa orang dari masing-masing pihak – kerabat dan teman pelaku dan yang tersinggung, dan kemudian berubah menjadi pertumpahan darah. Pertumpahan darah besar-besaran seperti itu telah berulang kali terjadi di Madura bahkan pada abad ke-21. Insiden paling terkenal dalam beberapa tahun terakhir, carok massal terjadi pada 13 Juli 2006 di desa Bujur Tengah, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, Indonesia, yang mengakibatkan penusukan dan pembunuhan tujuh orang dan melukai sembilan orang.

Sejarah Suku Dayak Di Kalimantan ( BORNEO )

Keluarga Dayak ialah warga negara asli Pulau Kalimantan yang terdiri atas beraneka macam budaya dan subsuku. Istilah Dayak pertama kali diperlukan oleh satu orang ilmuwan Belanda bernama August Kaderland pada 1895. Arti kata Dayak bulat tah tinggal menjadi bahan perbahasan semua ahli.

Ada yang menyebut artinya yakni Pengikut, Kampung, hingga orang yang tinggal di hulu Susukan. Sementara seputar yang lain mengklaim istilah Dayak menunjuk pada kekhususan personal yang dipercaya oleh orang-orang Kalimantan, merupakan Jegang, gagah, berani, dan ulet.

 

Terbebas dari alterasi itu, rakyat asli Kalimantan utuh biasanya tidak menekuni istilah Dayak.
Orang-orang di luar jangkauan merekalah yang menyebutnya jika Marga Dayak. Lantas, bagaimana asal-usul Kelompok Dayak di Kalimantan?

NENEK moyang Keluarga Dayak

Semua ahli berpendapat bahwa Dayak yaitu salah satu group marga asli paling besar dan tertua yang mendiami Pulau Kalimantan.
Ajakan ini didasarkan pada teori migrasi Rakyat, di mana buyut moyang orang Dayak diperkirakan bermula dari beberapa gelombang migrasi. Gelombang pertama terdiri dari ras Australoid, yang seterusnya disusul oleh ras Mongoloid.

Gelombang migrasi ini terus berlanjut, hingga mengadakan Bangsa Dayak memiliki begitu banyak bahasa dan idiosinkrasi budaya.

Keluarga Dayak memiliki 268 sub-suku yang dibagi ke dalam enam rumpun, merupakan Rumpun Punan, Rumpun Klemantan, Rumpun Apokayan, Rumpun Iban, Rumpun Murut, dan Rumpun Ot Danum. Keluarga Dayak Punan yakni bangsa yang paling tua mendiami Pulau Kalimantan. Lagi pula rumpun yang lain yakni desain asimilasi dengan kelompok Melayu.

Terpecahnya Kelompok Dayak Bangsa Dayak berpunca dari seluruh Kalimantan, baik yang masuk dalam wilayah Indonesia, maupun yang masuk ke wilayah Malaysia dan Brunei.
Di wilayah selatan Kalimantan, Marga Dayak tamat melatih satu buah kerajaan.

Dalam kebiasaan lisan Dayak di lingkungan itu sering dinamakan Nansarunai Usak Jawa, ialah Kerajaan Nansarunai dari Dayak Maanyan yang dihancurkan Majapahit.
Sejarah itu mendatangkan Bangsa Dayak Maanyan terpepet dan terpencar, sebahagian masuk kampung ke wilayah Dayak Lawangan. Arus besar berikutnya tercipta pada saat pengaruh Islam, tepatnya Sultanat Demak, bersama masuknya pedagang Melayu.

Selesei itu, separuh besar Bangsa Dayak di wilayah selatan dan timur Kalimantan mulai memeluk Islam dan tidak meneken dia jika orang Dayak. Orang Dayak yang tidak masuk Islam kembali menelusuri Batang air, masuk ke Udik, dan bermukim di Kayu Tangi, Amuntai, Margasari, Watang Amandit, Labuan Amas, dan Watang Balangan. Sebaliknya para yang lain yang lagi menutupi aturan budayanya terus terapit masuk ke hutan rimba.

Ngayau atau head hunting merupakan rutinitas etnis Dayak di masa lampau untuk mencari kepala musuh kalau tanda bukti Ketegaran. Sebagian orang asing dan antropolog barat terpukau mengeksploitasi sisi-sisi eksotik warga Borneo Terselip, salah satu di antaranya ialah praktik ngayau.

Pembingkaian ngayau oleh petandang dan antropolog barat, berakibat pada pelukisan yang hingga kini lagi melekat pada etnis Dayak. Citra Dayak semisal keluarga suku pengayau kembali Tampak, disaat tercipta konflik etnis di Kalimantan, sebaliknya selaku de facto praktik ngayau rampung lama ditinggalkan.

Labeling etnis Dayak selaku headhunter pecah sejamaknya ditanggalkan sebab praktik ngayau disepakati untuk dihentikan pada tahun 1894 dalam perbincangan besar Dayak se-Borneo di Takluk Anoi, Kalimantan Tengah, yang difasilitasi sang presiden kolonial.

Kiat hermeneutika dapat membongkar mitos dengan mencari hakikat dari suatu naskah atau Keabsahan kebenaran, dengan mengacu pada sejarah dan adat pada waktu naskah itu ditulis. Usaha rasional mewarisi true conditions (sensus plenior) yang ditawarkan hermeneutika, real tertera pandangan komunikasi. Artikel ini berjuang mencari hakikat makna dari skrip yang ditulis separo pendatang dan antropolog kaku dari abad 18 hingga masa Kebebasan.

Semua pencatat menakar mengonstruksi & menyimpai naskah mereka dengan mengacu pada sejarah dan kebiasaan pada masa itu.Ternyata, di tukas teks-tertulis tersedia validitas yang tidak ditulis atau dinafikan dan inilah bintik awal dari bias yang dilakukan pencatat dan fasilitas yang menyebarkannya.

Abstrak

Bacaan ini menceritakan tentang ritual keluarga Dayak yang dilakukan sebelum, Selagi, dan tamat perang. Keluarga Dayak adalah salah satu bangsa di Indonesia yang sangat konservatif buat etika budayanya.

Ritual terselip tetap lestari hingga adanya pesan Tewas Anoi pada tahun 1894. Ritual termuat cangga dilakukan karena keluarga Dayak berjuang menghindari perang dengan keluarga Dayak yang lain karena Dayak memiliki 405 keluarga atau keluarga lain. Sebelum kontrak Menyerah Anoi, bangsa Dayak aktif menghadirkan ritual karena ada perang antar klan atau berontak penjajah.

Sesudah wasiat Bertekuk lutut Anoi, orang Dayak aneh tercemplung perang hanya mereka merasa tarif diri atau tradisinya dihina. Saat ini, ritual yang terdiri dari Seremoni, Gaya tari, dan pengayauan atau Kayau melainkan dilakukan taruh kata penyambutan tamu melainkan elemen pengayauan.

 

joker123
sbobet
PG Slot